Terus, setelah selesai masa S1-nya, setelah diwisuda, foto-foto pake toga, kenapa baru sekarang ketemu alasannya?
Soalnya, baru sekarang bisa dinikmati. Selama 2 bulan terakhir, diwarnai semua capeknya, kejadian-kejadian menyenangkan maupun tidak, kurang tidurnya, dan semua semuanya, it was hell lot of fun. Memang sih baru selesai 2 stase, anestesi dan forensik. Tapi ya, hampir tiap hari, saya bisa pulang dengan cerita. Cerita-cerita yang nggak boleh diceritakan dengan detail, karena kan ada hukun kerahasiaan dokter-pasien, tapi it feels so good to actually be doing it. Bukan hanya membaca teori, mendiskusikan skenario, berlatih dengan manekin, tapi benar-benar berinteraksi dengan pasien yang sebenarnya, dengan penyakit yang sebenarnya, dengan semua resiko dan konsekuensinya. It makes me high.
Dulu, sebelum mulai rotasi klinik, pernah dikirim ke puskesmas untuk semacam uji coba, merasakan interaksi yang sebenarnya. Saat itu, ada pasien datang ke Unit Gawat Darurat, setelah di cek, pasien ini ternyata mengalami stroke dan harus segera dirujuk. Saat itu saya dan seorang teman seketika mengajukan diri untuk mendampingi, walau sebenarnya kami bisa dibilang belom kapasitasnya.. Tapi dokternya mengijinkan, dan kami berangkat ke Rumah Sakit. Tanpa maksud meremehkan kondisi pasien, tapi itulah saat pertama saya merasakan high. Saat itu temanku bilang, "Gw nggak ngerti ngapain orang perlu nge-drugs. Gw excited banget sekarang." dan responku, "Sama". It felt like I was doing the greates job in the world. I was actually saving people. Dan saat itu kerjaanku cuman apa? Tes refleks patologis, mendampingi rujukan, mengurus admisi ke Rumah Sakit. Dan yang sekarang saya rasain, jauh lebih dari itu. It was the highest I’ve ever felt.
Jadi kenapa dokter? Karena itu membuatku merasa ada yang bisa kulakukan. Sekecil apapun, ada seseorang yang merasa lebih baik, dan saya turut andil, sekecil apapun.
What I do, matters.
No comments:
Post a Comment